Adalah Thomas, sosok dalam novel Negeri di Ujung Tanduk yang tetap dengan style khasnya, tampan, rapi, dan balutan eksekutif muda yang cerdas dan berpengaruh tetap melekat padanya. Pada kisah kali ini, Thomas kembali dihadapkan pada kondisi pelik yakni melawan musuh yang sama usai kisah setahun lalu di Negeri Para Bedebah.
Thomas bertemu dengan Maryam, seorang wartawan yang ditugasibosnya mewawancarai Thomas. Dengan kesupersibukkan Thomas akhirnya Maryam bisa menemui Thomas di kapal pesiar barunya. Naasnya, dari situlah awal peperangan yang harus Thomas dan Maryam hadapi. Sebuah perang lanjutan dari kisah sebelumnya yang ternyata masih menyisakan kebelumtuntasan. Musuh sebenarnya belum benar-benar terungkap dulu, setahun lalu.
Thomas kembali dihadapkan pada musuh tak nampak yangmemiliki jerat gurita yang sangat kuat. Musuh yang Thomas hadapi merupakanatasan para jenderal bintang tiga, anggota DPR, jaksa, hakim, yang kesemuanya memegang tampuk puncak tanah air. Upaya Thomas memenangkan klien politik yang diusungnya, karena Thomas mengepalai lembaga konsultan politik juga, digagalkan dengan mudah. Namun, bukanlah Thomas jika ia menyerah begitu saja. Satu kata yang layak baginya seterjepit apapun kondisinya, Lawan!
Akan tetapi, ada satu hal yang nampak sedikit monoton dari kisah yang baru diangkat Tere Liye ini. Maryam, yang menjadi tokoh perempuan di novel berprofesi sebagai wartawan, sama seperti tokoh wanita di novel Negeri ParaBedebah. Alur awal yang bergerak dari keterjebakan tokoh wanita tersebut dalam kerasnya perjuangan Thomas juga hampir mirip sehingga ada kesan monoton atau mengulang.
Terlepas dari itu, novel ini sangat kaya dan berwarna. Novelini dipenuhi dengan intrik, strategi, konspirasi, dan kejadian-kejadian yang diluar ekspektasi pembaca. Kebencian, kisah masa lalu, keluarga, pengkhianatan, persahabatan sejati, juga menghiasi novel Negeri di Ujung Tanduk. Novel ini mampu membuat pembaca terpikat untuk terus membaca bahkan menghabiskan bacaan dalam dua tiga kali duduk.
Saat pembaca membaca ini, pembaca akan diarahkan pada imajitentang kehidupan realita. Tanah air. Di novel sebelumnya, Negeri Para Bedebah,sense kasus Century menjadi trending topik yang diangkat. Kali ini, di Negeri di Ujung Tanduk, arahan ada pada konvensi sebuah partai besar yang beberapa waktu lalu tokoh-tokohnya terjerat kasus Hambalang dan Wisma Atlet.
Membaca Negeri di Ujung Tanduk mampu membuka paradigma pembaca tentang parahnya beberapa hal yang bergulir di sekitar kita di sini, di Indonesia. Tentang politik yang tak segan ‘membunuh’, tentang uang yang jadi penguasa, tentang demokrasi yang sering membodohi, dan masih banyak lagi. Namun, Negeri di Ujung Tanduk juga memberikan ruang optimisme bagi pembaca untuk memiliki mental pejuang, petarung, dan pemenang. Mental itulah yang diwajahkan Thomas, yakni mental mausia beradab, berkarakter, dan berintegritas. Dan tentu masih ada orang yang benar-benar bersih dan kuat meniatkan diri untuk membangun bangsanya.
Sebuah statemen sederhana yang muncul dari salah seorang tokoh dalam novel kiranya menjadi stimulus terbaik pembaca untuk tetap optimisterhadap bangsa Indonesia dan bersegera membaca novel ini.
“Jarak antara akhir yang baik dan akhir yang buruk dari semua cerita hari ini hanya dipisahkan sesuatu yang kecil saja, yaitu kepedulian.” (Chai, Negeri di Ujung Tanduk)
Akankah Thomas berhasil membekuk musuh utama yang menjadi pembuat makar terbesar negeri di ujung tanduk? Siapakah sebenarnya musuh itudan apa kaitannya dengan masa lalu Thomas yang merenggut ayah-ibunya? Tidak ada kata lain untuk pembaca selain ‘selamat membaca’.
Penulis : Sofistika Carevy Ediwindra Sekertaris Umum Kammi Komisariat Madani Gambar : Google
Sumber : http://kammimadani.wordpress.com/2013/05/12/negeri-di-ujung-tanduk/
0 comments:
Posting Komentar